Belajar Agama Islam Jangan Melalui Internet




"Belajar agama itu bukan dari dunia maya ataupun internet, belajarlah pada pakar yang lebih mengetahui seperti ustadz, para ulama yang lebih mngetahui seluk beluk dasar hukum islam."
Sagoe Tunong - Perkembangan zaman teknologi dan era globalisasi ini yang sangatlah maju juga berdampak besar dengan kebudayaan dan perilaku manusia pada sekarang ini. Contoh seorang pemuda yang tertarik untuk mempelajari kajian islam untuk memperdalam ilmu agama tidak lagi belajar dengan para ahli yang lebih tahu lagi, hanya menggunakan materi yang ada di internet seseorang sudah mempercukup keinginan seseorang untuk memperdalam ilmu agama.

Seolah membantah pernyataan demikian, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan bahwa generasi muda jangan selalu terpaku dengan internet. Ada ilmu yang bisa dikaji dengan internet dan ada pula ilmu yang tidak bisa dipahami secara mendalam dengan materi yang ada di internet yaitu Agama. Dia menyarankan agar para generasi muda memdalam ilmu agama dengan mendatangi para ulama seperti ikut dalam majelis, dan acara - acara pengajian.

"Saya berharap generasi muda dalam memperlajari agama agar tidak terpaku dengan intenet, belajarlah agama dengan para pakar yang lebih ahli seperti ustadz dan para ulama yang telah teruji dan mampu memahami esensi dan substansi agama," ujar Lukman, dikutip dari Dream.

Lukman juga mengatakan, inti dari ajaran agama ialah memudahkan seseorang dalam mengkaji apa yang tertera didalamnya seperti menjunjung tinggi perdamaian dan kasih sayang. Untuk itu, Lukman memintar agar para pemuda lebih detail memilih materi yang ada di internet.


Selanjutnya, Lukman memang mengakui bahwa perkembangan internet memberikan dampak yang sangat besar bagi suatu paradaban manusia. Dia juga menilai bahwa revolusi telah terjadi di dunia informasi dikarenakan sebuah informasi memberi pengaruh yang kuat dengan berubahnya perilaku dan kebiasaan dengan sangat cepat.

Hal itu ternyata sangat disadari oleh kelompok radikal, akibatnya laman yang berkaitan dengan radikalisme semakin banyak dan beredar luas di internetSementara itu, mengutip hasil penelitian Gabriel Weimann, Lukman mengatakan terjadi lonjakan jumlah situs radikal dalam kurun waktu 1998 hingga 2003. Pada 1998, hanya terdapat 12 laman berbau radikalisme dan pada 2003 melonjak menjadi 2.650 laman.

"Data terakhir pada 2014, terdapat lebih dari 9.800 situs yang dikelola kelompok teroris," ucap Lukman.



Berkomentarlah dengan sopan, kami sangat menghargai komentar anda untuk membantu pengembangan website kami. Anda harus mengikuti prosedur dari kami dalam berkomentar. Mohon maaf jangan membuang2 waktu anda dgn mensubmit link2 hidup di situs kami, karena kami tidak akan menampilkannya.

1. Dilarang Spamming
2. Komentar yg mengandung link aktif akan tidak akan ditampilkan
3. Komentar harus sesuai dengan topik dan relevan

Terimakasih atas kunjungannya di Website Sagoe Tunong

Emoticon