Sepucuk Surat Dan Air Mata Dari Seorang Pemuda GAZA Untuk Dunia

Sagoe Tunong - Pada artikel kali ini saya akan memberi informasi tentang bagaimana seorang pemuda dari Gaza yang bernama Muhammad Alsaafin menempuh jalan kehidupan ditengah kebiadapan israel menghadang warga Palestina dalam mencapai hak asasi dan hak berkehidupan layak sebagaimana manusia di belahan bumi lainnya.


Dari Muhammad Alsaafin
Seorang Pemuda Yang Besar dan Hidup Di Camp Pengungsian Palestina


http://heriicklallana16.blogspot.com/2016/03/sepucuk-surat-dan-air-mata-dari-seorang-pemuda-gaza-untuk-dunia.html

Saya akan menulis dan menceritakan kepada anda apakah sebagai teman, kolega, anggota media, aktivis, ataupun orang yang belum pernah bertemu dan mengenal saya. Orang lain telah mendengar bagian dari kisah hidup saya yang saya ceritakan. Namun, saya percaya bahwa anda sekalian harus membaca apa yang saya ceritakan karena cerita ini adalah hal yang harus saya beritahu.

Saya adalah seorang pengungsi palestina yang berasal dari desa Fallujah yang terletak diantara Gaza, Hebron dan Asqalan. Saya tidak pernah diizinkan untuk mengunjungi desa saya Fallujah. kakek nenek saya diasingkan dari sana sejak dari tahun 1949 (setahun setelah berdirinya Israel) yang mengambil tempat dan berlindung di Gaza. Ayah saya dan saya sama - sama lahir di pengungsian Khan Younis Kamp yang didirikan beberapa tahun sebelum Gaza diduduki oleh Israel. Ayah saya menikah dengan wanita Barat, mereka bertemu dan mulai jatuh cinta pada saat mereka berdua belajar di Universitas Birzeit, dan ketika aku telah berusia dua tahun, kami bermigrasi ke Inggris dimana ia telah menerima gelar Phd nya. 14 Tahun kemudian pada tahun 2004 kita semua kembali ke Ramallah untuk kembali menetap di Palestina. Sekarang, orang tua saya bertekad bahwa saya dan tiga bersaudara lainnya akan menempa hubungan yang lebih kuat ke tanah air daripada tinggal di luar negeri. Pada awalnya transisi dibuat lebih mudah dengan fakta bahwa paspor asing kami diberi kebebasan untuk bergerak dari pada warga palestina lainnya yang ditolak di Tepi Barat dan Gaza. Namun semua itu hancur setelahnya ketika pada tahun 2005 saya mencoba menyeberangi sungai Yordan di Tepi Barat untuk mengunjungi bibi saya yang tinggal di Amman. Para agen penjaga di perbatasan Israel mengatakan kepada saya bahwa saya tidak bisa melewati perbatasan ini, karena meraka bilang saya telah mempunyai ID Gaza yang ditentang Israel. Berdasarkan aturan militer mereka yang menunjukkan bahwa saya tidak bisa melewati secara legal Perbatasan di Tepi Barat karena Israel telah meng-ultimatum "Bahwa warga Palestina dari Gaza tidak bisa masuk ke Tepi Barat, dan warga dari Tepi Barat tidak boleh masuk ke Gaza. Peraturan ini telah diberlakukan sejak tahun 1990-an tetapi baru diterapkan setelah meningkatnya keparahan setelah pecahnya intifada kedua.

Tentara Israel Menghadang warga palestina di perbatasan



Aku empat tahun berada di dalam ketakutan setelah dilakukannya penangkapan oleh tentara Israel, karena itu akan mengakibatkan deportasi hampir pasti untuk Gaza, dan isolasi dari keluarga saya. Empat tahun bagi mereka saya tidak pernah meninggalkan batas - batas Ramallah, sehingga untuk menghindari pos pemeriksaan Israel di setiap salah satu pintu masuk kota dan hal ini tidak pernah membuat saya dalam rasa aman karena bolak balik terus menerus untuk Universitas Birzeit pada rute yang sering dijaga oleh pasukan Israel dari permukiman terdekat di Bet El pada bulan bulan juni tahun ini, setelah banyak bantuan dari otoritas pemerintahan Palestina, saya meminta LSM Gisha Israel untuk membantu saya mendapatkan izin dari mereka untuk meninggalkan Tepi Barat. Saya ingin mengambil bagian dalam magang di Amerika Serikat, tapi saya hanya akan diberikanizin untuk keluar dari kondisi saya telah kembali ke Jalur Gaza yang telah dikepung dengan banyaknya penutupan, dan saya terpaksa harus menerima pilihan masuk penjara di Ramallah, aku ingin melihat dunia luar dan kembali mencari pekerjaan di luar negeri. Selama periode ini seluruh keluarga saya selamat dalam melakukan perjalanan di perbatasan seperti yang selalu saya lakukan.

Sebagai wartawan asing, ayah saya sering berpergian antara Tepi Barat, Gaza dan di dalam Green Line, dan ibu saya berserta saudaranya akan bersama dengan ayah saya pada saat melakukan perjalanan ke Yerusalem, Umm Al- Fahem, Acca, dan Haifa. Tetapi semua itu berubah saat di bulan Agustus ketika dia memasuki Gaza melalui perlintasan Erez seperti yang telah dia lakukan sebelumnya. Pada hari itu dia dihadang oleh tentara Israel, kemudian ditangkap dan kredensial persnya dicabut. Mereka bilang paspor Inggrisnya sudah tidak berharga, karena mereka telah menemukan hal yang menakutkan. Ayah saya lahir dan dibesarkan di kamp pengungsian di Gaza, dan ia telah memiliki Id Gaza. Mereka memberitahukan kepadanya agar dia tidak lagi dianggap sebagai orang asing, tetapi kembali anggap sebagai warga Gaza. Ia kembali dikirim ke Gaza dan mengatakan ia tidak pernah bisa kembali melintas green line atau masuk ke Tepi Barat lagi. Ibu dan saudara kembali lagi ke ramallah setelah diberitahu bahwa paspor Inggris itu tidak berlaku lagi dan id gaza akan dicabut oleh militer Israel. Meskipun dibesarkan di Tepi Barat dan masih memiliki salinan Id tua, ibu saya telah dikeluarkan dari Id Gaza oleh Israel. Ini telah membuatnya kebingungan seperti yang aku alami 4 tahun sebelumnya. Dia tidak bisa meninggalkan Ramallah karena takut akan penangkapan dan deportasi ke Gaza, jauh dari anak - anaknya, adiknya, dan anak - anak muda kakaknya yang baru saja meninggal.

Situasi ini diperparah dengan timbul masalah lainnya, saudara - saudaraku semua lahir di inggris, dan orang tua dan kakak yang telah dikeluarkan dari Id Gaza ini, diterbitkan Id Ke Tepi Barat. Ayah saya menghabiskan beberapa bulan terkahir berusaha untuk mendapatkan izin kembali ke Tepi Barat untuk melihat dan bertemu istri dan anak - anaknya bahkan dalam satu hari hanya untuk mengambil pakaiannya. Tetapi perintah yang di berlakukan LSM Israel atau Konsulat Inggris menyatakan bahwa mereka tetap bersikeras untuk tidak megizinkan dia keluar dari Gaza, kecuali dideportasikan dari bandara Ben Gurion. Akhirnya, untuk menyelamatkan pekerjaannya, ia meninggalkan Gaza ketika Mesir sudah mulai membuka jalur perbatasan Raffah pada awal Desember. Sekarang, ayah saya berada di sebuah negara dan saya di tempat lain, sementara ibuku masih terperangkap di Tepi Barat, tidak dapat melakukan perjalanan karena takut tidak di izinkan untuk kembali. Untungnya saudara - saudara saya yang lainnya mampu untuk menyeberang ke Yordania, dimana kita dapat bertemu satu sama lain, tetapi keluarga kami telah hancur dan Terpisahkan berdasarkan hukum kependudukan yang dibuat sewenang - wenang dan semena - mena. Namun kami mulai menemukan jalan diantara celah diantara Pemerintah Israel dan Konsulat Inggris. Kami bahkan telah mengirimkan surat kepada Tony blair, wakil dari quartet, memohon agar dia membantu untuk mengakui kami ialah termasuk dari warga inggris dan mempunyai paspor. Namun, seperti yang telah terduga sebelumnya dia mengabaikan kami. Tetapi kami telah mempunyai salinan untuk Email ini. Saya percaya cerita ini perlu diberitahukan kepada kalian bukan karena situasi yang kita alami cukup unik, justru karena tidaknya, ini adalah bentuk dari kebijakan Israel yang disengaja, sesuatu yang telah ada sejak hari - hari awal Nakba dan telah berkembang sejak itu. Ini adalah kebijakan yang merampas jutaan rakyat Palestina, dan pemisahan puluhan ribu keluarga. Pemisahan paksa yang dikenakan antara Tepi Barat dan Gaza ialah pelanggaran Ilegal berdasarkan hukum Internasional, dan melalui cara tersebut Israel berhasil memisahkan rakyat Palestina pada suatu waktu.

Saya berharap bahwa dari anda yang membaca kisah nyata yang saya sampaikan, untuk dapat menyebarkan cerita ini melalui platform yang anda miliki, apakah itu bersama teman ataupun kenalan anda sendiri, di blog atau mungkin dengan membawa ke media. Ibu saya takut jika berita ini tidak tersampaikan dan tidak diperdulikan oleh publik. Dia akan menderita nasib yang sama seperti Berlanty Azzam, senior Universitas Bethlehem yang ditangkap tentara Israel tanpa malu - malu menyatakan bahwa suatu saat warga Gaza tidak dapat belajar lagi di Universitas di Tepi Barat. Resiko itu nyata, namun kami tidak punya pilihan lain.



Berkomentarlah dengan sopan, kami sangat menghargai komentar anda untuk membantu pengembangan website kami. Anda harus mengikuti prosedur dari kami dalam berkomentar. Mohon maaf jangan membuang2 waktu anda dgn mensubmit link2 hidup di situs kami, karena kami tidak akan menampilkannya.

1. Dilarang Spamming
2. Komentar yg mengandung link aktif akan tidak akan ditampilkan
3. Komentar harus sesuai dengan topik dan relevan

Terimakasih atas kunjungannya di Website Sagoe Tunong

Emoticon